Saya tidak terlalu rajin bicara dengan Tuhan seperti keluarga saya yang lain. Saya juga tidak terlalu mengerti tentang agama, yang saya tahu hanya sedikit hal dari semua agama, bahkan agama saya. Saya tidak juga tahu mengapa orang-orang suka sekali memaksa saya untuk beribadah. Tapi yang saya tahu, saya punya Tuhan dan Tuhan sayang sama saya.
Tuhan sepenuhnya benar, Dia sepenuhnya berkuasa atas segala-galanya, Dia tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dia terlalu hebat untuk menjadi bahan perbincangan, itulah mengapa saya tidak terlalu tertarik untuk berbicara tentang Tuhan.
Tuhan itu (katanya) satu, dan ya, saya percaya itu! Dia benar satu! Mereka benar!
Tidak ada yang tahu wujud Tuhan itu sebenarnya. Yang saya tahu, pada kepercayaan yang saya percaya, Tuhan itu serupa dengan manusia, itulah kenapa manusia menjadi makhluk mulia yang benar-benar beruntung karena bisa serupa dengan Tuhan. Hanya kadang sepintas terpikir, seperti apakah manusia yang benar-benar mirip seperti Tuhan? Siapa dia? Apakah dia begitu special dimata Pencipta sehingga mempunyai kehormatan untuk serupa dengan-Nya?
Saya tidak habis pikir tentang Tuhan. Lagi, saya juga malu untuk membahasnya serius atau hanya sepintas dengan siapa saja. Ya, siapa saja!
Tuhan itu ada diantara hati kita masing-masing. Jujur, semakin saya di doktrin untuk percaya kepada Tuhan, semakin bertubi tanda tanya di hati dan otak saya tentang keakuratan-Nya. Bukan saya tidak beriman, tapi nalar saya hanya sebatas manusia, yang terkadang berontak dan kritis.
Tapi ya! Intinya saya bukan atheist. Saya masih lebih beruntung dari beberapa teman yang saya kenal mereka memiliki paham atheist. Saya juga tidak terlalu mau banyak tanya akan hal itu, sama halnya seperti saya juga tidak mau banyak ditanya soal Tuhan yang saya percayai. Tuhan itu terlalu suci juga terlalu agung untuk diperdebatkan.
Ada satu hal yang membuat saya kurang tertarik berbicara tentang Tuhan. Ya! Bukan ada, tetapi memang hanya 1 hal, dan karena hal itulah saya tidak nyaman berbicara tentang Tuhan terhadap orang lain. AGAMA! Bukan maksud saya untuk bercerita disini bahwa agama A lebih baik dari B, atau C maupun D sekalipun Z. Tidak sama sekali tidak!
Agama dimata saya hanya penghalang. Ya, penghalang, tidak lebih. Saya tidak bisa bebas berargumen kepada si penganut agama A sementara saya beragama B. si agama C tidak mau berteman karib terhadap si penganut agama D. si penganut agama E hanya akan menemukan kejanggalan di kitab agama A, siapa yang ada diceritakan dikitab agama A adalah siapa yang juga diceritakan di kitab agama E, hanya mereka berbeda profesi, atau kurang lebih seperti itu.
Hal ini hanya membuat saya berpikir, apakah sesungguhnya yang baca dan saya simpulkan disemua agama yang saya pelajari tentang akhir jaman, masalahnya adalah AGAMA?
Agamakah yang akan menjadi pemecah manusia untuk mempercayai Tuhan yang katanya hanya ada SATU itu?
Agamakah yang menjadi pintu gerbang kerusakan semua moral manusia yang sering mengatasnamakan agama untuk perang agama?
Agamakah yang apa mereka sebut sebagai hal terakhir yang akan disempurnakan sebelum kiamat dan hidup baru nanti, hanya akan ada SATU AGAMA, yaitu TUHAN? – s.caesar

Tulisannya keren. oia, gue pernah baca juga di buku tp lupa judul and penulisnya siapa and statementnya gini. "Agama adalah sumber malapetaka terbesar bagi umat manusia" and gue rasa pas banget buat ngedukung tulisan loe bungkus permen.
BalasHapusih nasi bebeeeeeekkkkkk suka baca buku juga? kirain hobinya jilatin piring kotor doang *lari* *lari dari kenyataan* hahaha
BalasHapus